Riski Eko Fedryansyah Journey Notes
Monday, March 20, 2017
BATAK
Suku Batak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman initampilkan/sembunyikan detail
"Batak" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Batak (disambiguasi).
Suku Batak
Toba: ᯅᯖᯂ᯲
Karo: ᯆᯗᯂ᯳
Simalungun: ᯅᯖᯃ᯳
Pakpak-Dairi: ᯅᯗᯂ᯲
Angkola-Mandailing: ᯅᯖᯄᯱ᯲
Tokoh Batak 2.jpg
Tokoh-tokoh dari suku Batak
Amir Sjarifoeddin, Abdul Haris Nasution, Burhanuddin Harahap, Adnan Buyung Nasution, TB Simatupang, Sitor Situmorang
(dari kiri ke kanan)
Jumlah populasi
8.466.969 [1]
Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Sumatera Utara 5.785.716
Riau 691.399
Jawa Barat 467.438
Jakarta 326.645
Sumatera Barat 222.549
Kepulauan Riau 208.678
Aceh 147.259
Banten 139.259
Jambi 106.249
Bahasa
Angkola
Mandailing
Pakpak
Simalungun
Toba
Karo
Agama
Kristen (Protestan & Katolik) 75.63%
Islam 24.17% [2]
Parmalim
Animisme
Kelompok etnik terdekat
Suku Alas
Suku Nias
Suku Melayu
Suku Minangkabau
Suku Bugis
Suku Toraja
Suku Rimba
Suku Gayo
Suku Singkil
Suku Aceh
Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Pantai Barat dan Pantai Timur di Provinsi Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tadisional yakni: tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme, walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Sejarah
2 Identitas Batak
3 Penyebaran agama
3.1 Masuknya Islam
3.2 Misionaris Kristen
3.3 Gereja HKBP
3.4 Gereja Katolik di Tanah Batak
4 Kepercayaan
5 Salam Khas Batak
6 Kekerabatan
7 Falsafah dan sistem kemasyarakatan
7.1 Ritual kanibalisme
8 Tarombo
9 Kontroversi
10 Kalender Batak
11 Lihat pula
12 Referensi
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu pada zaman batu muda (Neolitikum).[3] Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara pada zaman logam.
Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[4]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal[5].
Identitas Batak[sunting | sunting sumber]
Identitas Batak populer dalam sejarah Indonesia modern setelah di dirikan dan tergabungnya para pemuda dari Angkola, Mandailing, Karo, Toba, Simalungun, Pakpak di organisasi yang di namakan Jong Batak tahun 1926, tanpa membedakan Agama dalam satu kesepahaman : Bahasa Batak kita begitu kaya akan Puisi, Pepatah dan Pribahasa yang mengandung satu dunia kebijaksanaan tersendiri, Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi jelas dalam berbagai dialek. Kita memiliki budaya sendiri, Aksara sendiri, Seni Bangunan yang tinggi mutunya yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa kita mempunyai nenek moyang yang perkasa, Sistem marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri kita menunjukkan adanya tata negara yang bijak, kita berhak mendirikan sebuah persatuan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan kita dan melindungi budaya kuno itu [6]
R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar.[7] Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial.[8] Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.
Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.[9]
Penyebaran agama[sunting | sunting sumber]
Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak.
Masuknya Islam[sunting | sunting sumber]
Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak.[10] Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola.[11] Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur
Misionaris Kristen[sunting | sunting sumber]
Lihat pula: Sejarah masuknya Kekristenan ke suku Batak
Batak.png
Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak.[12] Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.[13]
Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.[14].
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.[15]
Selanjutnya Misi Katolik di Tanah Batak terhitung sejak Pastor Misionaris pertama yakni Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap masuk ke jantung Tanah Batak, yakni Balige tanggal 5 Desember 1934.
Masyarakat Toba dan sebagian Karo menyerap agama Kristen dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya[16]. Pada masa ini merupakan periode kebangkitan kolonialisme Hindia Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.[17]
Gereja HKBP[sunting | sunting sumber]
Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan September 1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan pelatihan perawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) didirikan.[18]
Gereja Katolik di Tanah Batak[sunting | sunting sumber]
Misi Katolik masuk ke Tanah Batak setelah Zending Protestan berada di sana selama 73 tahun. Daerah-daerah yang padat penduduknya serta daerah-daerah yang subur sudah menjadi “milik” Protestan. Menurut Sybrandus van Rossum dalam tulisannya berjudul “Matahari Terbit di Balige” bahwa pada tahun 1935 orang Batak yang sudah dibaptis di Protestan mencapai lebih kurang 450.000 orang. Lembaga pendidikan dan kesehatan sudah berada di tangan Zending. Zending juga sudah mempunyai kader-kader yang tangguh baik dalam masyarakat maupun dalam pemerintahan. Dalam situasi seperti itulah Misi Katolik masuk ke Tanah Batak.
Kepercayaan[sunting | sunting sumber]
Sebuah kalender Batak yang terbuat dari tulang, dari abad ke-20. Dimiliki oleh Museum Anak di Indianapolis.
Sebelum suku Batak Toba menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.
Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu:
Tendi / Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.[14]
Salam Khas Batak[sunting | sunting sumber]
Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya
1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”
Kekerabatan[sunting | sunting sumber]
Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.
Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.
Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.
Rumah Adat Batak Toba
Falsafah dan sistem kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]
Bendera yang digunakan oleh Suku Batak
Masyarakat Batak memiliki falsafah, asas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak
1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru
2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru
3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei
4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru
5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek Marberru
Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).
Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun, pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.
Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.
Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.
Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru.
Ritual kanibalisme[sunting | sunting sumber]
Pejuang Batak
Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.
Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai "pemakan manusia".[19] Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.
Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka ".[20][21]
Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan.[22] Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".[23]
Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya.[24] Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.[25]
Oscar von Kessel mengunjungi Silindung pada tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan jeruk nipis harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.[26]
Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar ".[27]
Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka.[28] Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan nampaknya kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini dikarenakan besarnya pengaruh agama pendatang dalam masyarakat Batak.[29]
Tarombo[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tarombo
Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga. Contohnya SAMPAGUL. Singkatan dari Samosir, Pakpahan, Harianja, Sitinjak, dan Gultom.
Kontroversi[sunting | sunting sumber]
Sebagian orang Karo, Angkola, dan Mandailing sempat tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari suku Batak. Meski mayoritas masih mengakui dirinya bagian dari suku Batak, wacana identitas itu sempat muncul disebabkan karena pada umumnya kategori "Batak" dipandang primitif dan miskin oleh etnik lain masa Orde Baru. Selain itu, perbedaan agama juga menyebabkan sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak. Di pesisir timur laut Sumatera, khususnya di Kota Medan, perpecahan ini sangat terasa. Terutama dalam hal pemilihan pemimpin politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi. Sumber lainnya menyatakan kata Batak ini berasal dari rencana Gubernur Jenderal Raffles yang membuat etnik Kristen yang berada antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Islam Minangkabau, di wilayah Barus Pedalaman, yang dinamakan Batak. Generalisasi kata Batak terhadap etnik Mandailing (Angkola) dan Karo, umumnya tak dapat diterima oleh keturunan asli wilayah itu. Demikian juga di Angkola, yang terdapat banyak pengungsi muslim yang berasal dari wilayah sekitar Danau Toba dan Samosir, akibat pelaksanaan dari pembuatan afdeeling Bataklanden oleh pemerintah Hindia Belanda, yang melarang penduduk muslim bermukim di wilayah tersebut.
Konflik terbesar adalah pertentangan antara masyarakat bagian utara Tapanuli dengan selatan Tapanuli, mengenai identitas Batak dan Mandailing. Bagian utara menuntut identitas Batak untuk sebagain besar penduduk Tapanuli, bahkan juga wilayah-wilayah di luarnya. Sedangkan bagian selatan menolak identitas Batak, dengan bertumpu pada unsur-unsur budaya dan sumber-sumber dari Barat. Penolakan masyarakat Mandailing yang tidak ingin disebut sebagai bagian dari etnis Batak, sempat mencuat ke permukaan dalam Kasus Syarikat Tapanuli (1919-1922), Kasus Pekuburan Sungai Mati (1922),[30] dan Kasus Pembentukan Propinsi Tapanuli (2008-2009).
Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklasifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Pakpak dan Angkola sebagai etnis Batak.[31]
Kalender Batak[sunting | sunting sumber]
Nama bulan
No Penanggalan Toba Penanggalan Karo Lama Hari
1 Sipaha sada Paka I (Paka Kambing)
2 Sipaha dua Paka II (Paka Lembu)
3 Sipaha tolu Paka III (Paka Gaya)
4 Sipaha opat Paka IV (Paka Padek)
5 Sipaha lima Paka V (Paka Arimo)
6 Sipaha onom Paka VI (Paka Kuliki)
7 Sipaha Pitu Paka VII (Paka Kayu)
8 Sipaha ualu Paka VIII (Paka Tambok)
9 Sipaha sia Paka IX (Paka Gayo)
10 Sipaha sampulu Paka X (Paka Baluat)
11 Sipaha li Paka XI (Paka Baluat)
12 Sipaha hurung Paka XII (Paka Binurung)
13 Lamadu
Penanggalan
Hari Penamaan hari (Toba) Penamaan hari (Karo) Penamaan hari (Simalungun)
1 Aditia Aditia Aditia
2 Suma Suma Suma
3 Anggara Nggara Anggara
4 Muda Budaha Mudaha
5 Boraspati Beraspati Boraspati
6 Singkora Cukra Enem Berngi Sihora
7 Samisara Belah Naik Samisari
8 Artia ni Aek Aditia Naik Aditia Turun
9 Suma ni Mangadop Suma Siwah Suma ni Siah
10 Anggara Sampulu Nggara Sepuluh Anggara ni Sapuluh
11 Muda ni Mangadop Budaha Ngadep Mudaha ni Mangadop
12 Boraspati ni Mangadop Beraspati Tangkep Boraspati ni Takkop
13 Singkora Ni Purnama Cukra Dudu (Lau) Sihora Duduk (Bah)
14 Samisuru Ni Purasa Belah Purnama Raya Samisara Purnama Raya
15 Tula Tula Tula
16 Suma ni Holom Suma Cepik Suma ni Holom
17 Anggara ni Holom Nggara Enggo Tula Anggara ni Tula
18 Muda ni Holom Budaha Gok Mudaha (Gok)
19 Boraspati ni Holom Beraspati 19 Boraspati 19
20 Singkora Maraturun Cukra Si 20 Sihorasi 20
21 Samisara Maraturun Belah Turun Samisara Maraturun
22 Aditia ni Angga Aditia Turun Aditia Turun
23 Suma ni Mate Sumana Mate Suma ni Mate
24 Anggara ni Begu Nggara Simbelin Anggarana (Bod)
25 Muda ni Mate Budaha Medem Mudaha (Bod)
26 Boraspati ni Gok Beraspati Medem Boraspati (Bod)
27 Singkora Dudu Cukrana Mate Sihora 27
28 Samisara Bulan Mate Mate Bulan Matei ni Bulan
29 Hurung Dalin Bulan Dalan ni Bulan
30 Ringkar Sami Sara Rikkar
Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Aksara Batak
Bahasa Batak
Masakan Batak
Referensi[sunting | sunting sumber]
^ "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia 2011" (PDF). 2011-01-01. Diakses tanggal 2016-12-31.
^ "Demography of Indonesia's Ethnicities". Badan Pusat Statistik / Institute of Southeast Asian Studies. 2015.
^ Peter Bellwood, Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago, Revised edition, University of Hawaii Press, Honolulu, 1997
^ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula.
^ Dobbin, Christine. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784 – 1847.
^ Hans Van Miert (2003). Dengan Semangat Berkobar. Hasta Mitra-Pustaka Utan Kayu-KITLV. p. 475. ISBN 9799665736.
^ Liddle, R.W. Ethnicity, party, and national integration: an Indonesian case study. New Haven: Yale University Press.
^ Castles, L. Statelesness and Stateforming Tendencies Among the Batak before Colonial Rule. Kuala Lumpur: Monograph no 6 of MBRAS. p. 67-66.
^ Tideman, J. Hindoe-Invloed in Noordelijk Batakland. Amsterdam: Uitgave van het Bataksche Institut no 23. p. 56.
^ Dobbin, Christine. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784 – 1847.
^ Kipp, 1990.
^ Burton, R. and Ward, N., "Report of a Journey into the Batak Country, in the interior of Sumatra, in the year 1824." Transactions of the Royal Asiatic Society, London 1:485-513.
^ "Missionaries: The Martyrs of Sumatra," in The Most of It: Essays on Language and the Imagination. by Theodore Baird, Amherst, Mass.: Amherst College Press, 1999.
^ a b Tuuk, H. N. van der, Bataksch Leesbok, Stukken in het Mandailingsch; Stukken in het Dairisch. Amsterdam, 1861.
^ Voorma, H.O. The Encounter of the Batak People with Rheinische Missions-Gesellschaft in the Field of Education, 1861-1940, A Historical-Theological Inquiry. (2000), p. 173.
^ Ooi KG. Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO, 2004.
^ Sherman, George, Rice, Rupees and Ritual, Cornell University Press, Ithaca, NY 1990.
^ Kushnick, G. "Parent-Offspring Conflict Among the Karo of Sumatra," Doctoral dissertation, University of Washington, Seattle, 2006, p. 7.
^ Polo M, Yule H, Cordier H. The Travels of Marco Polo: The Complete Yule-Cordier Edition, Dover Pubns, 1993, Vol. II, Chapter X, p. 366.
^ The Travels of Nicolò Conte [sic] in the East in the Early Part of the Fifteenth Century Hakluyt Society xxii (London, 1857)
^ Sibeth A, Kozok U, Ginting JR. The Batak: Peoples of the Island of Sumatra: Living with Ancestors. New York: Thames and Hudson, (1991) p. 16.
^ Nigel Barley (ed.), The Golden Sword: Stamford Raffles and the East, British Museum Press, 1999 (exhibition catalogue). ISBN 0-7141-2542-3.
^ Barley N. The Duke of Puddle Dock: Travels in the Footsteps of Stamford Raffles. 1st American ed. New York: H. Holt, 1992, p. 112.
^ Junghuhn, F., Die Batta-länder auf Sumatra, (1847) Vol. II, p. 249.
^ Junghuhn, p. 87
^ Von Kessel, O., "Erinnerungen an Sumatra," Das Ausland, Stuttgart (1854) 27:905-08.
^ Pfeiffer, Ida, A Lady's Second Journey Around the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States. New York, Harper & Brothers, 1856, p. 151.
^ Sibeth, p. 19.
^ Kipp RS. The early years of a Dutch Colonial Mission: the Karo Field. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1990.
^ Perret, Daniel. La Formation d'un Paysage Ethnique: Batak & Malais de Sumatra Nord-Est. Paris: École Française d'Extrême-Orient. p. 316-325.
^ (Inggris) Leo Suryadinata, Evi Nurvidya arifin, Aris Ananta, Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape, Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, hal.48.
[tampilkan] l b s
Suku bangsa di Indonesia
Kategori: Suku bangsa di IndonesiaBatakSuku bangsa di Sumatera Utara
Menu navigasi
Belum masuk logPembicaraanKontribusiBuat akun baruMasuk logHalamanPembicaraanBacaPerubahan tertundaSuntingSunting sumberVersi terdahuluPencarian
Cari Wikipedia
Lanjut
Halaman Utama
Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang
Komunitas
Warung Kopi
Portal komunitas
Bantuan
Wikipedia
Tentang Wikipedia
Pancapilar
Kebijakan
Menyumbang
Hubungi kami
Bak pasir
Bagikan
Facebook
Twitter
Google+
Cetak/ekspor
Buat buku
Unduh versi PDF
Versi cetak
Dalam proyek lain
Wikimedia Commons
Perkakas
Pranala balik
Perubahan terkait
Halaman istimewa
Pranala permanen
Informasi halaman
Item di Wikidata
Kutip halaman ini
Pranala menurut ID
Bahasa lain
العربية
English
Español
हिन्दी
Basa Jawa
Baso Minangkabau
Bahasa Melayu
Basa Sunda
中文
22 lagi
Sunting interwiki
Monday, November 30, 2015
COPAS PENTING PARNA
[tutup]
![]() |
PomparAn ni Raja Nai Ambaton
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini. |
Raja Naiambaton
Satu tulisan menyatakan bahwa Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam dari Raja Batak]], seperti berikut: Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton.[2]Marga-marga Parna
Terdapat perbedaan pada jumlah marga yang masuk dalam kelompok Parna ini, hal ini disebabkan karena kebudayaan Batak yang dapat menggunakan marga leluhur, percabangan marga kakek, ayah, atau bahkan percabangan marga baru. Tetapi walau berbeda marga, semuanya mengaku dipersatukan oleh ucapan di atas ("Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”).[3][4]Penyebab lain dari perbedaan jumlah marga ini adalah adanya beberapa marga dari non-Tapanuli/Toba yang tidak mengakui marganya sebagai keturunan dari Raja Nai Ambaton.
Selain itu, kelompok Parna juga pernah mengeluarkan marga yang tidak lagi memenuhi ketentuan sebagaimana dinasihatkan oleh Nai Ambaton, misalnya Haromunthe.
Haromunthe, jika dirunut sesuai literatur dan kesaksian dari pemilik marga ini, adalah keturunan dari Munte. Sejak dikeluarkan dari kelompok ini, maka orang Batak yang bermarga Haromunthe tetap melaksanakan adat-istiadat Batak dan karenanya tetap menjadi bagian dari masyarakat Batak dalam lingkup yang lebih luas. Keterangan tentang marga ini bisa ditelusuri di haromunthe.com
Nasib sejenis juga dialami oleh marga Sidabungke [lazim dilafalkan Sidabukke atau Dabukke.
Ada 48 marga yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton (PARNA) yaitu:
Urutan ini berdasarkan yang tertua:
1. Simbolon
2. Tinambunan
3. Tumanggor/Tumangger
4. Turuten
5. Maharaja
6. Pinayungan
7. Nahampun
8. Tamba ( Sitonggor )
9. Siallagan
10. Turnip
11. Tamba ( Lumban Tonga-tonga )
12. Sidabutar
13. Sijabat> Dajawak
14. Siadari
15. Sidabalok
16. Tamba ( Marhatiulubalang )
17. Siambaton
18. Munte ( Lumban Tonga-Tonga )
19. Tamba ( Lumban Toruan/Rumaroha )
20. Rumahorbo
21. Napitu
22. Sitio
23. Sidauruk
24. Simalango
25. Saing
26. Simarmata
27. Nadeak
28. Saragi
29. Sumbayak
30. Sitanggang
31. Sigalingging
32. Manihuruk
33. Garingging
34. Tendang
35. Banurea
36. Manik Kecupak/Mengidar
37. Gajah
38. Bringin
39. Brasa
40. Boang Manalu
41. Bancin
42. Saraan
43. Kombih
44. Berampu
45. Munthe
46. Damunthe
47. Dalimunthe
48. Ginting.
Catatan kaki
- T. Simbolon, s.kom, Nara Sumber
- ^ Sebagian sumber menyebut PARNA sebagai Parsadaon Raja Nai Ambaton
- ^ W. M. Hoetagaloeng, Pustaha Taringot Tu Tarombo ni Bangso Batak, 1926
- ^ N. Siahaan, BA., Sejarah Kebudayaan Batak, 1964
- ^ Djaja S. Meliala SH dan Aswin Peranginangin, Hukum Perdata Adat Karo Dalam Rangka Pembentukan Hukum Nasional
Menu navigasi
Komunitas
Cetak/ekspor
Perkakas
Bahasa
- Halaman ini terakhir diubah pada 13 Maret 2015, pukul 19.38.
- Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Saragi
Saragih Dajawak
Saragih Damunthe
Siadari
Siallagan
Siambaton
Sidabalok
Sidabungke
Sidabutar
Sidauruk
Sigalingging
Sijabat
Sikedang (Kutacane)
Simalango
Simarmata
Simbolon Altong Nabegu
Simbolon Hapotan
Simbolon Juara Bulan
Simbolon Pande Sahata
Simbolon Panihai
Simbolon Suhut Nihuta
Simbolon Tuan
Simbolon Sirimbang
Sitanggang Bau
Sitanggang Gusar
Sitanggang Lipan
Sitanggang Silo
Sitanggang Upar Parangin Nawalu
Sitio
Sumbayak
Tamba
Tendang
Tinambunan/Tinambunen
Tumanggor/Tumangger
Turnip
Turutan/Turuten.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Saragi
Saragih Dajawak
Saragih Damunthe
Siadari
Siallagan
Siambaton
Sidabalok
Sidabungke
Sidabutar
Sidauruk
Sigalingging
Sijabat
Sikedang (Kutacane)
Simalango
Simarmata
Simbolon Altong Nabegu
Simbolon Hapotan
Simbolon Juara Bulan
Simbolon Pande Sahata
Simbolon Panihai
Simbolon Suhut Nihuta
Simbolon Tuan
Simbolon Sirimbang
Sitanggang Bau
Sitanggang Gusar
Sitanggang Lipan
Sitanggang Silo
Sitanggang Upar Parangin Nawalu
Sitio
Sumbayak
Tamba
Tendang
Tinambunan/Tinambunen
Tumanggor/Tumangger
Turnip
Turutan/Turuten.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
sislsilah parna
PARNA adalah
singkatan dari Parsadaan Nai Ambaton (lazim juga disebut sebagai
Pomparan ni siRaja Naiambaton) yaitu kumpulan marga yang merupakan
keturunan dari Nai Ambaton.
Siapakah
Nai Ambaton ini? Untuk mengetahuinya mari kita melihat ke sejarah
mula-mula Si Raja Batak.Si Raja Batak memiliki 3 orang anak laki-laki
yaitu Guru Tateabulan, Raja Isumbaon dan Toga Laut. Guru Tateabulan
memiliki 5 anak laki-laki dan juga 3 anak perempuan, yaitu Siboru
Pareme, Siboru Anting Sabungan, Siboru Biding Laut. Raja Isumbaon
memiliki 3 orang anak laki-laki yaitu Tuan Sorimangaraja, Raja Asi-asi
dan Sangkar Somalidang.
Tuan Sorimangaraja kemudian memperistri 3 orang, yaitu:
1) Siboru Anting Sabungan (disebut juga Siboru Paromas)
2) Siboru Biding Laut, adik Siboru Anting Sabungan
3) Siboru Sanggul Haomasan
Anak
pertama Tuan Sorimangaraja dari Siboru Anting Sabungan dinamai Si
Ambaton atau Tuan Sorbadijulu. Dari sinilah nama Nai Ambaton berasal
(nai = ibu, Ambaton = nama anaknya, Nai Ambaton = ibunya si Ambaton).
Konon Nai Ambaton ini berpesan kepada anaknya Si Ambaton untuk menjaga
persatuan keturunannya.
“Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”.
Kalimat ini sulit diterjemahkan secara tepat dalam bahasa Indonesia
tetapi kira-kira maksudnya adalah bahwa semua keturunan Raja Naiambaton
adalah satu putra-satu putri (dianggap sebagai satu saudara). Begitu
eratnya persaudaraan itu seolah-olah antar kakak dan adik kandung,
meskipun hubungan darahnya sudah jauh.
Karena
dianggap sebagai satu saudara, putra-putri keturunan Nai Ambaton tidak
boleh menikah satu dengan yang lain. Hingga hari ini, terasa canggung
bahkan tabu untuk saling mengawini di dalam marga-marga Parna. Jika
sampai ada yang menikah, bisa dipastikan pasangan ini akan menjadi bahan
gunjingan dan cercaan. Kerap kali mereka dikucilkan –atau mengucilkan
diri– dari acara-acara adat.
Terkadang
salah satu pihak menggunakan sub marga yang tidak umum dikenal sehingga
tidak diketahui bahwa mereka memiliki hubungan kekerabatan. Teman,
orang tua atau kerabat yang mengetahui hal ini berkewajiban untuk segera
memberitahukan. Karena sudah menjadi norma yang dipahami bersama, orang
yang ditegur pun tidak boleh marah kepada yang menegur.
Dari situs www.parna.org, marga-marga Parna dibagi menjadi 4 kelompok besar:
A. Dari Simbolon Tua:
1. Simbolon
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Maharaja
5. Turutan
6. Pinayungan
7. Nahampun
B. Dari Tamba Tua
8. Tamba
9. Siallagan
10. Sidabutar
11. Sijabat
12. Siadari
13. Sidabalok
(no 10 s.d. no 13 disebut Si Opat Ama)
14. Rumahorbo
15. Rea
16. Napitu
17. Siambaton
C. Dari Saragi Tua
18. Saragi
19. Saragih
20. Simalango
21. Saing
22. Simarmata
23. Nadeak
24. Basirun
25. Bolahan
26. Akarbejadi
27. Kaban
28. Garingging
29. Jurung
30. Telun
D. Dari Munte Tua
31. Munte
32. Sitanggang
33. Sigalingging
34. Siallagan
35. Manihuruk
36. Sidauruk
37. Turnip
38. Sitio
39. Tendang
40. Banuarea
41. Gaja
42. Berasa
43. Beringin
44. Boangmanalu
45. Bancin
Catatan:
ada yang tidak sepakat kalau Sitio diletakkan di rumpun Munte Tua
karena Rumahorbo, Napitu, Sitio adalah satu saudara sehingga semestinya
Sitio berada di kelompok yang sama dengan Rumahorbo dan Napitu, yaitu
sebagai bagian dari Tamba Tua.
Di
situs yang lain, disebutkan bahwa marga-marga Parna berjumlah 70 marga.
Berikut adalah daftarnya (sebanyak 68 marga saja, yang lainnya belum
diketahui) yang disusun secara alfabetikal, bukan berdasarkan
urut-urutan kesenioran.
1. Bancin (Sigalingging)
2. Banurea (Sigalingging)
3. Boangmenalu (Sigalingging)
4. Brampu (Sigalingging)
5. Brasa (Sigalingging)
6. Bringin (Sigalingging)
7. Gaja (Sigalingging)
8. Dalimunthe
9. Garingging (Sigalingging)
10. Ginting Baho
11. Ginting Capa
12. Ginting Beras
13. Ginting Guruputih
14. Ginting Jadibata
15. Ginting Jawak
16. Ginting Manik
17. Ginting Munthe
18. Ginting Pase
19. Ginting Sinisuka
20. Ginting Sugihen
21. Ginting Tumangger
22. Haro
23. Kaban
24. Kombih (Sigalingging)
25. Maharaja
26. Manik Kecupak (Sigalingging)
27. Munte
28. Nadeak (di pa lao)
29. Nahampun
30. Napitu
31. Pasi
32. Pinayungan (Sigalingging)
33. Rumahorbo
34. Saing
35. Saraan (Sigalingging)
36. Saragih Dajawak
37. Saragih Damunte
38. Saragih Dasalak
39. Saragih Sumbayak
40. Saragih Siadari
41. Siallagan
42. Siambaton
43. Sidabalok
44. Sidabungke
45. Sidabutar
46. Saragih Sidauruk
47. Saragih Garingging
48. Saragih Sijabat
49. Simalango
50. Simanihuruk
51. Simarmata
52. Simbolon Altong
53. Simbolon Hapotan
54. Simbolon Pande
55. Simbolon Panihai
56. Simbolon Suhut Nihuta
57. Simbolon Tuan
58. Sitanggang Bau
59. Sitanggang Gusar
60. Sitanggang Lipan
61. Sitanggang Silo
62. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 (Sigalingging)
63. Sitio
64. Tamba
65. Tinambunan
66. Tumanggor
67. Turnip
68. Turuten
sumber : berbagai sumber
Subscribe to:
Comments (Atom)

