Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Saragi
Saragih Dajawak
Saragih Damunthe
Siadari
Siallagan
Siambaton
Sidabalok
Sidabungke
Sidabutar
Sidauruk
Sigalingging
Sijabat
Sikedang (Kutacane)
Simalango
Simarmata
Simbolon Altong Nabegu
Simbolon Hapotan
Simbolon Juara Bulan
Simbolon Pande Sahata
Simbolon Panihai
Simbolon Suhut Nihuta
Simbolon Tuan
Simbolon Sirimbang
Sitanggang Bau
Sitanggang Gusar
Sitanggang Lipan
Sitanggang Silo
Sitanggang Upar Parangin Nawalu
Sitio
Sumbayak
Tamba
Tendang
Tinambunan/Tinambunen
Tumanggor/Tumangger
Turnip
Turutan/Turuten.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Saragi
Saragih Dajawak
Saragih Damunthe
Siadari
Siallagan
Siambaton
Sidabalok
Sidabungke
Sidabutar
Sidauruk
Sigalingging
Sijabat
Sikedang (Kutacane)
Simalango
Simarmata
Simbolon Altong Nabegu
Simbolon Hapotan
Simbolon Juara Bulan
Simbolon Pande Sahata
Simbolon Panihai
Simbolon Suhut Nihuta
Simbolon Tuan
Simbolon Sirimbang
Sitanggang Bau
Sitanggang Gusar
Sitanggang Lipan
Sitanggang Silo
Sitanggang Upar Parangin Nawalu
Sitio
Sumbayak
Tamba
Tendang
Tinambunan/Tinambunen
Tumanggor/Tumangger
Turnip
Turutan/Turuten.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Bagi masyarakat Bangso Batak dan para anthropolog/etnolog telah banyak
mengkaji keberadaan marga-marga keturunan Raja Nai Ambaton yang teguh
memegang amanat leluhurnya dalam membangun ikatan persaudaraan pada
berbagai wilayah di Indonesia sampai ke luar negeri (desa na ualu).
Warga Parna dalam berkomunikasi persaudaraan tidak memandang adanya
sekat/batas, wilayah penyebaran sub etnis (puak), agama, sosial budaya,
sosial ekonomi dan sosial politik. Kenyataan, sebegitu tahu dirinya
bagian dari marga PARNA komunikasi akan terbangun secara spontanitas.
Ini sudah menjadi kebiasaan dan berlangsung cukup lama, bukan satu abad
saja. Telah teruji dalam sejarah perjuangan, zaman revolusi, termasuk
dalam menegakkan kemerdekaan RI, demikian dituturkan para orang tua-tua
pelaku perjuangan dari berbagai wilayah.
Begitu sakral ikatan kekerabatan (pertuturan) PARNA ini bagi individu
yang sudah merasakannya. Banyak perantau mendapat pengayoman dari
semarganya, ketika dia berada di daerah baru di seluruh wilayah
Indonesia ia mendapatkan orang tua, walau orang tua kandungnya jauh nun
di tanah Batak sana. Seorang putra Batak keturunan Raja Nai Ambaton
diperantauan cukup menyebut tahu lingkup marga-marganya, itu sebagai
modal berkomunikasi, bahwa ia anak, bapak dan kakek, atau cucu, termasuk
boru (sepengambilan-berkawan).
Penghayatan kepada amanat leluhur Raja Nai Ambaton: si sada anak, si
sada boru;, walau ada yang membuat istilah itu;sisada lulu anak, sisada
lulu boru;, entah apa bedanya, apa artinya secara hakiki. Hal itu bukan
sekedar main main bagi setiap individu keturunan raja Nai Ambaton, baik
pada saat acara adat (ulaon) dalam keadaan bahagia, suka cita, (Las ni
Roha) maupun pada waktu duka (Lungun ni Roha) tetap mempertahankan tidak
boleh saling mengawini sesama marga PARNA. (Na So Jadi marsibuatan
anak/boru angka pinompar ni Parna) atau incest atau dilarang saling
mengawini putra-putri bagi marga parna). Tanggung jawab keluarga Parna
dalam adat istiadat dapat dipikul keluarga marga parna setempat ketika
orang tuanya jauh dari perantauan bila melangsungkan pernikahan,
misalnya di Papua sekalipun ia berada.
Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna)
Setelah membaca tulisan dari Bpk. PMH. Sidauruk yang berjudul "Inilah ke
64 Marga pada Keluarga Besar PARNA", di www.sinarpagibaru.com, Penulis
merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon
ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dari sejak kecil Penulis diberitahu
oleh orang tua bahwa ada 62 Marga Parna, akan tetapi setelah ditelusuri
lebih lanjut, ternyata lebih banyak dari angka tersebut. Menurut Rapat
Kerja Nasional Parna Se-Indonesia, ada 64 Marga Parna. Akan tetapi
menurut hasil penelusuran Penulis ada 83 Marga Parna dimana tidak semua
marga dibawah ini mengakui sebagai bagian dari Parna. Tercatat di
Wilayah: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Selatan,
Pakpak/Dairi, Alas, Gayo dan Singkil. Daftar marga ini tersusun menurut
alfabetis dan diolah dari berbagai sumber.
Bancin
Banuarea/Banurea
Berampu/Brampu
Barasa/Brasa
Baringin/Bringin
Beruh (Kutacane)
Biru
Boangmanalu
Capah
Dajawak
Dalimunthe
Damunthe
Dasalak
Gajah
Ginting Beras
Ginting Bukit
Ginting Capa
Ginting Garamata
Ginting Ajar Tambun
Ginting Baho
Ginting Guru Patih
Ginting Jadi Bata
Ginting Jawak
Ginting Manik
Ginting Munthe
Ginting Pase
Ginting Sugihen
Ginting Sinisuka
Ginting Tumangger
Garingging
Haro
Hubu
Hobun
Kombih (Singkil)
Maharaja
Manihuruk
Manik Kacupak
Munthe
Nadeak
Nahampun/Anak Ampun
Napitu
Pinayungan/Pinayungen
Pasi
Rumahorbo
Saing
Sampun
Saraan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kardoman.tumangger/inilah-ke-83-marga-parna-pomparan-ni-raja-nai-ambaton_550ff12ca333117c39ba7e25
No comments:
Post a Comment